Saturday, January 10, 2015

Aku Kamu Manu-sia








Memandang jauh langit biru, bersandar awan kelabu.
Aku kamu menerawang, kelakar masa depan.
Menjalani satire kehidupan yang haru dan menggelikan.
Seperti roda yang berputar, aku kamu menyeberang
persimpangan hidup yang sarat kemunafikan.
Hunian dunia yang nihil harapan, seperti kapas beterbangan
mengekor nafsu, menghamba pikiran,
sepertinya, aku kamu sedikit tergoda
oleh semu laku asmara, cinta, dan kuasa.
Roda itu semakin kencang, melindas kemanusiaan,
manu-sia dengan muslihatnya, inginkan Tuhan bersembunyi saja,
supaya, kalam-Nya bungkam saat hatinya membara,
memuaskan diri dengan hingar bingar kesenangan.
Aku kamu pun, mulai berdosa,
Istigfar malu mengujar, syukur&nikmat tak lagi akur,
Iba-dah seperti drama, melafal takbir mengakhir salam,
Sh-alat untuk meminta puja, riya sudah menjadi busana.
Aku kamu, mari berpisah,
mencari jalan pulang, menunjuk arah
jalan lurus yang semakin jauh,
rumah manusia setengah satwa,
neraka atau surga, Tuhan lebih tahu.

Monday, December 29, 2014

Sambikala Rasa













Semlenget ati ngudar wigati,
Nalika tresna lan murka nyumabrahi,
Miwiti tetaneman kabecikan,
Gegremengan ala tansah kaumbar.
Sliramu, kang ngugemi kaluhuraning wira,
mung pirsa sadengahing raga,
prayoganing tindak tanduk tansah muspra,
amarga lakuning uripmu, mung ngandelke donya.
Sawetaraning urip, sawetaraning rasa,
mung bisa agawe dedongengan kuna,
tanpa ko eling sartaning waspada.
Aku lan laku,
tetep piharsa kasunyatanmu,
Senajan prantara swara,
tanpa katon srawung pirsa.

Thursday, December 25, 2014

PASINAON, MISTISISME KEDOKTERAN JAWA


Judul Buku   : Pasinaon
Penulis           : AA Yurisaldi
Penerbit        : Pinus Book Publisher, Yogyakarta
Cetakan         : Cetakan 1, April 2010
Tebal              : 131 hlm

Temen, pinter, nglakoni, sabar, dan nekani sebuah filosofi jawa, tertulis di sebuah pentagram yang tergantung di dinding rumah kawedanan. Sebuah simbol memiliki kekuatan magis untuk memusnahkan sihir jahat dari para penganut ilmu Kalakembar yang diwariskan turun-temurun oleh keluarga keturunan Belanda. Konon, seorang Resi sakti bersama temannya mengembangkan ilmu kebatinan untuk membantu Raja Pajajaran dalam mempertahankan wilayahnya dari ekspansi Majapahit. Walhasil terciptalah ilmu yang diberi nama Kalakembar yang tersimpan dalam dua kitab. Sebuah kitab dilarikan temannya yang berkhianat menuju Timur Tengah dan satunya lagi dicuri muridnya sendiri dengan cara membunuh sang Resi. Namun, bak pepatah di atas langit masih ada langit. Sebelumnya sang Resi telah menciptakan cincin Kalamunyeng yang diberikan kepada adik seperguruannya untuk menangkal kekuatan dari ilmu Kalakembar, sekaligus menghantam balik penggunanya.
Pewaris Kalakembar merah dan hitam secara tidak terduga bertemu dalam ikatan keluarga seorang dokter Belanda dalam lingkungan NIAS (Netherlands Indiche Artsen School) pada tajun 1929 di Surabaya. Di bawah bimbingan wanita usia senja pengikut gypsi, para penganut ilmu Kalakembar menggencarkan serangan sihir kepada orang-orang yang dibencinya. Sebut saja Raden Oerip, seorang bendahara pemerintah kota Malang, menggunakan ilmu tersebut untuk membunuh jaksa penuntut khusus kasus korupsi yang menjeratnya. Selang beberapa lama, Raden Oerip bertemu dengan pemilik cincin Kalamunyeng yang tidak lain adalah suami teman lamanya, Mas Ngabehi Akadikoen. Raden Oerip tewas mengenaskan dengan tanda tato sepasang kalajengking merah pada pergelangan tangannya.
Kisah penganut ilmu Kalakembar tidak berhenti sampai di situ. Kutukan dan sihir Kalakembar turun diwariskan kepada dua dokter wanita keturunan Belanda, berikut sifat dan peringai yang jahat. Amari dan Lyna, begitu mereka disapa memiliki dendam pada salah satu mahasiswa kedokteran NIAS bernama Herman yang tidak lain adalah keturunan pemilik cincin Kalamunyeng. Herman terkena serangan nyeri pada perut yang begitu hebat. Gejala-gejala yang muncul dianalisis, tidak menghasilkan diagnose yang ilmiah. Di sinilah pertarungan ilmu kedokteran dan magis sangat kental terasa. Saat semuanya terasa sia-sia, Herman mendapat saran dari ayahnya, pemilik cincin Kalamunyeng untuk dibersihkan dari segala macam guna-guna. Di bawah bimbingan sang Guru, Eyang Marnu, butir-demi butir paku berkarat keluar dari perut calon dokter muda tersebut.  Ritual terakhir adalah mandi di sungan Mendit, kaki Gunung Bromo. Akadikoen juga merapalkan wirid untuk menangkis serangan sihir tersebut datang kembali dengan wirid yang sama dia baca ketika terkena serangan yang serupa puluhan tahun silam. Sebuah amalan dari RM. Sostokartono, sang Maha Guru bersama surat yang penuh makna dan filosofi.