Tuesday, November 26, 2013

Melawan Lupa

 
Waktu berputar menandakan hidup terus berjalan dan sejarah terus berproses. Manusia dengan segala hal ihwalnya berkembang sesuai tuntutan masa. Namun, memori yang terpasang untuk merekam jejak-jejak pendahulu, napak tilas perjuangan di saat manusia berada di pangkal sejarah hidupnya, cenderung memudar dan melemah. Lupa, atau sengaja melupakan. Mereka sebut dirinya orientalis, yang menafsiri hidup dengan dua frasa, “hari ini dan masa depan”.
Manusia dicipta dengan kelemahan lupa, tidak serta merta boleh menggunakan dalih lupa untuk menghalalkan segala ambisinya. Contoh saja siswa yang malas mengerjakan PR, ketika tugas dikumpulkan mereka beralasan lupa. Secara konstitusional, orang yang lupa memang tidak bisa dikenai hukum, namun bagaimana jika keadaan lupa tersebut disebabkan karena kelalaian. Tentu saja hal itu tidak bisa ditoleransi.
Melupakan masa lalu yang kelam dan menyakitkan mungkin menjadi cara untuk meniti kehidupan kedepan yang lebih baik. Melupakan dendam, melupakan kekecewaan, ataupun melupakan keterpurukan. Namun, sejarah tidak bisa dibohongi. Diri pribadi berubah, tentu saja berkat masa lalu. Menghitung waktu mundur berarti mengukur seberapa baik perubahan kita, dan berusaha menghindari permasalahan yang mengembalikan kita ke dasar sejarah hidup yang kelam.
Salah satu lupa yang mendera bangsa kita adalah lupa kepada pahlawan yang berjasa memperjuangkan kesatuan negara. Lupa akan cara menghargai dan menghormati jasanya. Lupa nasionalismenya, lupa akan perjuangannya, bahkan dilupakan namanya karena kepentingan politik semata. Mereka hanya dikenang sebagai nama jalan, nama bandara, ataupun museum. Lebih dari itu, asa dan semangat nasionalisme yang diwariskan para pahlawan habis terkikis oleh para perongrong kesejahteraan negara. Para koruptor dan pembuat terror, mereka lupa diri.
Lupa diri, berarti lupa akan konsep diri. Lupa dari mana dia berasal, lupa di mana dia dilahirkan, dibesarkan dan dididik. Lupa akan cinta, kasih sayang, dan harga diri. Koruptor hanya mengingat hasil, menghitung proses, dan menggadaikan harga dirinya untuk menutupi semua kebusukan perbuatannya. Demikian pula para pembuat terror, mereka lupa akan cinta dan kasih sayang. Mereka melupakan toleransi, lupa mengkonfirmasi dengan kitab suci, hanya mengingat fanatisme dan anarkhi.
Akhirnya, mereka melupakan Tuhan. Bahwasanya dalam kehidupan itu diawasi-Nya dan akan dimintai pertanggungjawaban. Mereka yang melupakan Tuhan, lupa akan kewajiban menghamba kepada-Nya. Melupakan bahwa hidup di dunia hanya sementara. Rela menggadaikan iman, hanya untuk kesenangan sesaat. Di saat mereka ingat semua, waktu telah terhenti. Hanya penyesalan dan konsekuensi yang mereka hadapi.
 
[Karisma, Edisi 3]

 

No comments :

Post a Comment