Waktu berputar menandakan hidup terus
berjalan dan sejarah terus berproses. Manusia dengan segala hal ihwalnya
berkembang sesuai tuntutan masa. Namun, memori yang terpasang untuk merekam
jejak-jejak pendahulu, napak tilas perjuangan di saat manusia berada di pangkal
sejarah hidupnya, cenderung memudar dan melemah. Lupa, atau sengaja melupakan.
Mereka sebut dirinya orientalis, yang menafsiri hidup dengan dua frasa, “hari
ini dan masa depan”.
Manusia dicipta dengan kelemahan lupa,
tidak serta merta boleh menggunakan dalih lupa untuk menghalalkan segala
ambisinya. Contoh saja siswa yang malas mengerjakan PR, ketika tugas
dikumpulkan mereka beralasan lupa. Secara konstitusional, orang yang lupa
memang tidak bisa dikenai hukum, namun bagaimana jika keadaan lupa tersebut
disebabkan karena kelalaian. Tentu saja hal itu tidak bisa ditoleransi.
Melupakan masa lalu yang kelam dan
menyakitkan mungkin menjadi cara untuk meniti kehidupan kedepan yang lebih
baik. Melupakan dendam, melupakan kekecewaan, ataupun melupakan keterpurukan.
Namun, sejarah tidak bisa dibohongi. Diri pribadi berubah, tentu saja berkat
masa lalu. Menghitung waktu mundur berarti mengukur seberapa baik perubahan
kita, dan berusaha menghindari permasalahan yang mengembalikan kita ke dasar
sejarah hidup yang kelam.
Salah satu lupa yang mendera bangsa kita
adalah lupa kepada pahlawan yang berjasa memperjuangkan kesatuan negara. Lupa
akan cara menghargai dan menghormati jasanya. Lupa nasionalismenya, lupa akan
perjuangannya, bahkan dilupakan namanya karena kepentingan politik semata.
Mereka hanya dikenang sebagai nama jalan, nama bandara, ataupun museum. Lebih
dari itu, asa dan semangat nasionalisme yang diwariskan para pahlawan habis
terkikis oleh para perongrong kesejahteraan negara. Para koruptor dan pembuat
terror, mereka lupa diri.
Lupa diri, berarti lupa akan konsep diri.
Lupa dari mana dia berasal, lupa di mana dia dilahirkan, dibesarkan dan
dididik. Lupa akan cinta, kasih sayang, dan harga diri. Koruptor hanya
mengingat hasil, menghitung proses, dan menggadaikan harga dirinya untuk
menutupi semua kebusukan perbuatannya. Demikian pula para pembuat terror,
mereka lupa akan cinta dan kasih sayang. Mereka melupakan toleransi, lupa mengkonfirmasi
dengan kitab suci, hanya mengingat fanatisme dan anarkhi.
Akhirnya, mereka melupakan Tuhan.
Bahwasanya dalam kehidupan itu diawasi-Nya dan akan dimintai
pertanggungjawaban. Mereka yang melupakan Tuhan, lupa akan kewajiban menghamba
kepada-Nya. Melupakan bahwa hidup di dunia hanya sementara. Rela menggadaikan
iman, hanya untuk kesenangan sesaat. Di saat mereka ingat semua, waktu telah
terhenti. Hanya penyesalan dan konsekuensi yang mereka hadapi.
No comments :
Post a Comment